Hai, balik lagi dengan admin Diamond :)
Maaf mungkin admin Gold nya belum sempet buka blognya :(
Postingan kali ini perihal majas atau gaya bahasa. Cekidot .....
Bahasa dalam karya sastra tidak bisa lepas dari stilistik atau gaya. Gaya dihubungkan
dengan pemakaian bahasa dalam karya sastra. Gaya bahasa merupakan bahasa indah
yang berfungsi untuk meningkatkan efek. Penggunaan gaya bahasa dapat mengubah dan
menimbulkan makna tertentu. Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan
kata dalam berbicara dan menulis yang bertujuan untuk meyakinkan atau mempengaruhi
pembaca.
Gorys Keraf membagi gaya bahasa menjadi empat kelompok, yaitu
a. Gaya bahasa Perbandingan ( seperti metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori,
antitesis,dll.)
b. Gaya bahasa Pertentangan ( seperti hiperbola, litotes, ironi, satire, paradoks, klimaks,
antiklimaks, dll)
c. Gaya bahasa Pertautan ( seperti metonimia, sinekdoke, alusio, eufemisme, elips,dll)
d. Gaya bahasa Perulangan (seperti aliterasi, asonansi, antarklasis, anafora, simploke, dll)
Aspek kebahasaan yang membangun teks cerpen meliputi:
a. Kosakata,
b. Gaya bahasa,
Aspek ini berfungsi untuk meningkatkan efek makna dengan jalan memperkenalkan serta
membandingkan suatu benda atau hal lain tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih
umum. Penggunaan gaya bahasa ini akan menimbulkan makna konotasi.
c. Kalimat yang menggambarkan peristiwa.
Salah satu ciri linguistik yang membangun teks cerita pendek adalah penggunaan kalimat
yang berfungsi melukiskan/mengambarkan keadaan dan peristiwa.
d. Bahasa tidak baku dan tidak formal. Penulis menggunakan bahasa yang tidak formal
karena cerita pendek mengisahkan kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak formal membuat
cerita pendek terasa lebih nyata.
Perhatikan
Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk
langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus itu
bersama isinya. Untung bus tak begitu penuh sehingga sesama penumpang tak perlu
bersinggungan badan.
Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas
koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki
setengah mengantuk.
Begitu bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa di
antara mereka sudah membajing loncat ketika bus masih berada di mulut terminal. Bus
menjadi pasar yang sangat hiruk-pikuk. Celakanya, mesin bus tidak dimatikan dan sopir
melompat turun begitu saja. Dan para pedagang asongan itu menawarkan dagangan
dengan suara melengking agar bisa mengatasi derum mesin. Mereka menyodornyodorkan
dagangan, bila perlu sampai dekat sekali ke mata para penumpang. Kemudian
mereka mengeluh ketika mendapati tak seorang pun mau berbelanja. Seorang di antara
mereka malah mengutuk dengan mengatakan para penumpang adalah manusia-manusia
kikir, atau manusia-manusia yang tak punya duit.
Suasana sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan
keadaan yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang
hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk
meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan itu
kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau dengan
seorang perempuan penjual buah.
Sementara para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba
bersikap lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman
seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu dikeluhkan
karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga tidak tersiksa, aku
selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca semuanya dengan tenang: Sopir
yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu, tukang-tukang asongan yang sangat
berisik itu, dan lelaki yang setengah mengantuk sambil mengepulkan asap di belakangku
itu. (penggalan Cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” karya Ahmad Thohari)
Mari kita ulas!
Penggunaan bahasa pada cerita pendek di atas sebagai berikut.
1. Gaya bahasa yang dipakai dan menimbulkan efek konotasi antara lain pucuk langit,
memanggang bus, membajing loncat, dan mulut terminal.
2. Kalimat yang menggambarkan suasana
- Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran.
- Celakanya, mesin bus tidak dimatikan dan sopir melompat turun begitu saja.
- para pedagang asongan itu menawarkan dagangan dengan suara melengking agar bisa
mengatasi derum mesin. Mereka menyodor-nyodorkan dagangan, bila perlu sampai dekat
sekali ke mata para penumpang.
Poin Penting
Ciri bahasa teks cerita pendek sebagai berikut.
1. Terdapat gaya bahasa.
2. Kalimat deskriptif yang menggambarkan suasana.
3. Penggunaan bahasa yang tidak baku dan tidak normal.
Nah itu tadi sedikit pengetahuan tentang Majas atau Gaya Bahasa, belum lumayan mendalam guys karena ini mungkin cuma ujung kuku nya aja. Yang lebih jelas mungkin akan admin Diamond share lain kali. Trims udah mampir ya guys, ingat untuk selalu menggali ilmu lebih dalam :))
Regards,
Admin Diamond :)
No comments:
Post a Comment